Goldman Sach telah memberikan sebuah prediksi bahwa di tahun 2025 terdapat kemunculan era kekuatan ekonomi baru (new economy age) dimana peran kekuatan ekonomi yang tergabung dari G-7 tak akan mendominasi kembali dan telah tergeser oleh kekuatan baru yang mulai tumbuh yaitu kekuatan ekonomi yang terdiri dari negara-negara berkembang yaitu Brasil, Rusia, India dan China yang terpolarisasi menjadi anggota BRIC. BRIC menjadi sinyalemen penantang G-7 karena mereka termasuk dalam kriteria negara berkembang yang mempunyai karakteristik pertumbuhan ekonomi yang pesat (fast developing countries) dengan akumulasi PDB/Product Domestic Bruto sekitar $130 triliun pada tahun 2025.
Satu hal yang patut dicatat adalah, bahwa dari seluruh anggota BRIC sebenarnya yang paling dominan sebagai penyumbang devisa terbesar adalah China, China adalah negara yang mempunyai cadangan devisa sekitar 30% dari cadangan devisa dunia yang mencapai $6.700 miliar sedangkan cadangan devisa China hingga kini mencapai sekitar $2000 miliar, dan apabila ditambah dengan negara anggota BRIC yang lain menjadi sekitar 40% dari seluruh cadangan devisa Dunia. Sedangakan dari anggota negara G-7, Dolar Amerika masih mendominasi sebagai transaksi ekonomi (reserve currency) sekitar 60% transaksi dunia.
BRIC pada dasawarsa ini telah mengusulkan untuk mereformasi komposisi kebijakan penentuan SDR / special drawing right yang selama ini masih dikuasai oleh Dolar Amerika. SDR sendiri sebagai tolok ukur penentu cadangan international sebagai dasar penentuan alat tukar, dimana Dolar dihargai sebesar 0.88 gram emas. Dengan basis kondisi seperti itu dapat kita tarik garis lurus bahwa dengan komposisi cadangan devisa BRIC sebesar itu pasti BRIC akan menginginkan perubahan pengunaan mata uang, dan tentunya China akan mengajukan Renmimbi sebagai pengganti Dolar.

0 komentar:
Posting Komentar