Dalam ranah politik yang sekarang kita saksikan hiruk pikuk dan kegaduhannnya, dapat kita rasakan bagaimana para pencalon-pencalon pemangku istana sangat berkehendak untuk menggapai singgasana dengan berbagai alibi dan pembenarannya. salah satu hal yang dapat kita rasakan adalah cara para politisi ini dalam mengelaborasi keampuhan daya pikatnya, apabila sang Incumbent berpola kiri maka secara serentak akan bergerak ke kanan dan menyerang ke kiriannya. seperti kita ketahui bersama bahwa era sekarang merupakan kondisi dimana pola ekonomi kapitalistik liberal sedang terfragmentasi menjadi sebuah pola-pola baru (new Age) yang disesuaikan dengan kondisi bangsa-bangsa di dunia. di China akan menggunakan pola campuran dengan tetap menjaga renmimbinya sambil membuka pintu bagi arus deras modal asing, di Amerika sendiri tanpa malu-malu Obama mulai meratifikasi regulasinya dengan sedikit demi sedikit memproteksi produk dalam negerinya.
Kita, Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan selalu mencari jati dirinya guna mentransformasi diri bangsanya guna meraih jati diri kenasionalannya yang akan menjadi pijakan dan arahan gerbong menuju kemandirian bangsa. hal ini yang sekiranya menjadi resep para politisi kita, dimana Pemerintah yang sedang berjalan untuk menganeksasi dirinya menjadi sebuah haluan baru berupa ekonomi jalan tengah yang berPancasila, akan tetapi para lawan politiknya tetap dengan gagah berani selalu mendengungkan antitesa-antitesa sosialisme modern yang terpolarisasi oleh isu-isu kemandirian tanpa menjabarkan bagaimana cara merealisasikannya.
semua akan sangat berpulang pada sang pemilih yang berjumlah sekitar 200 juta manusia Indonesia, apakah akan memberikan dukungannya pada Incumbent atau akan berspekulasi memilih Sang Perubahan yang dengan gagahnya menjatidirikan gagasannya menuju sebuah pola yang lebih merata dan merakyat tanpa diketahui bagaimana cara mencapainya.
