Kamis, 27 November 2008

Kemandirian Sektor Pertanian

Dalam satu dasawarsa ini kita banyak terperangah dengan anomali-anomali ekonomi yang terjadi di dunia finansial maupun dunia riil ekonomi. Kita banyak terbujuk oleh rayuan hembusan paham kapitalisme dan liberalisme yang notabene banyak sekali mengandung bermacam kelemahan-kelemahan sistemik. Kapitalisme menularkan design ekonomi yang mendasarkan pada kekuatan pasar, yaitu kekuatan Supply and Demand serta sistem ribawi , maka tidak dapat disangkal lagi ketika negara adidaya AS mengalami Bubble Economy atau gelembung ekonomi yang disulut oleh ulah rekayasa ekonomi dengan jalan mengupgrade outlook ekonomi dengan menaikkan harga saham, valuta asing serta memberikan kredit perumahan secara besar-besaran/subprime mortgage.
Hal itulah yang dapat kita anggap sebagai irrasional system, dimana sistem yang diciptakan dan ditularkan secara simultan yang dapat mempengaruhi konfigurasi sistem ekonomi dunia, negara seluruh dunia terlalu patuh dengan sebuah sistem yang dapat menjerumuskan secara simultan ke jurang resesi. Tentunya Indonesia juga tak luput masuk dalam belenggu sistem tersebut, kita sudah menelan habis-habisan doktrin kapitalisme dan liberalisme dimana negara kita semakin meninggalkan core business masyarakat kita yang banyak menggantungkan hidupnya dari pertanian dan mulai beralih ke mazhab industrialisasi yang notabene setiap ongkos produksi selalu menggantungkan 40% komponen import. Coba apabila kita telaah ulang konfigurasi pembangunan Indonesia selama 10 tahun terakhir, kita tidak banyak menemukan kebijakan pemerintah yang condong untuk membela kaum proletar yang mayoritas petani.
Pertanian merupakan suatu keunggulan komparatif bangsa Indonesia, apabila Pemerintah kiranya bersedia untuk kembali mendukung sektor pertanian, saya yakin kita tidak akan mudah terombang ambing dalam turbulensi ekonomi seperti ini, para pemuda akan enggan pergi meninggalkan ladangnya dan tidak akan menjual lahan pencahariannya hanya untuk bekal pergi ke kota untuk mengais rejeki menjadi kuli industri, yang ketika terjadi deadlock ekonomi maka mereka akan rentan untuk kehilangan mata pencaharian. Hal itulah kiranya akan dapt dijadikan renungan dan refleksi diri apakah kita akan menjadi diri sendiri atau menjadi orang lain.