Rabu, 26 November 2008

Perspektif Haji Mabrur

Apabila kita sempat memperhatikan antusias para calon jemaah haji kita patut berbangga dengan bangsa kita, dengan kondisi ekonomi yang krusial seperti sekarang ini umat muslim masih mampu untuk menyempatkan diri untuk memenuhi panggilan sang Khalik. Setiap orang yang akan berangkat haji akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, apabila diambil rata-rata berkisar antara 30 juta hingga 70 juta Rupiah, jumlah yang cukup signifikan apabila kita kalikan jumlah umat muslim yang berhaji secara keseluruhan dalam tahun tersebut. Apabila jumlah keberangkatan haji mencapai angka 50.000 orang, maka apabila kita kalikan dana keberangkatan per orang sekitar 30 juta akan diperoleh angka Rp. 1.5 Triliun. Angka yang fantastis!. Dalam tulisan ini kita tidak akan mempersoalkan mengenai jemaah yang baru melaksanakan sekali, akan tetapi apabila seperempat dari jumlah tersebut adalah orang yang berhaji dua kali atau ke berapa kali maka alangkah ironisnya, uang sebesar sekitar Rp.300 Miliar hanya dihamburkan untuk memenuhi nafsu keinginan beribadah yang berlebihan yang dimana ketika itu banyak sekali anak putus sekolah, bayi busung lapar dan masalah sosial lainnya di Indonesia. Coba kalau kita tengok lebih komprehensif mengenai kebijakan yang diambil oleh Kerajaan Arab Saudi ketika menghadapi krisis glabal sekarang ini, mereka mengambil kebijakan yang lebih bersifat condong mensuport Kapitalis Global dengan menyuntikan dana talangan ke IMF untuk mengisi Escrow Account IMF guna di cairkan sebagai pinjaman kepada negara berkembang dengan syarat yang mengikat dan menguntungkan Kapitalis. Maka apabila kita sedikit mengalihkan ego dan kesombogan kita dalam beribadah yang berlebihan, alangkah bermanfaatnya uang sejumlah tersebut apabila bisa dialokasikan untuk mengentaskan masalah sosial dalam negeri kita sendiri.
Apabila pernah membaca salah satu sabda Nabi Muhammad, terdapat perkataan beliau yang menyitir bahwa Ibadah yang paling ditonjolkan adalah Ibadah sosial karena sangat berpengaruh dengan kehidupan orang banyak, apabila kita jumlah 80% Islam mengajarkan ibadah muamallah atau sosial dan hanya 20% yang bersifat pribadi dan ritual, dan apabila kita mengingatkan mereka untuk menahan hawa nafsunya yang berlebihan biasanya mereka menjawab bahwa mereka sudah bersedekah di lingkungan sekitar, apabila kita renungkan hal itu sangat lucu, karena yang dimaksud lingkungan adalah lingkungan secara global, mulai dari sekitar mereka, hingga lingkungan seluruh negeri karena seluruh umat muslim hakekatnya bersaudara dan tidak mengenal batas wilayah. Apabila di Jakarta sudah bersedekah hendaknya juga menengok kondisi saudara kita di Makassar dan lainnya. maka sangat bijak apabila Nabi pernah mengingatakan bahwa "Syaitan tidak pernah menjerumuskan orang yang taat beribadah dengan Khamar, akan tetapi dengan ibadahnya itu sendiri" hingga manusia tersebut sama derajadnya dengan manusia yang telah terjerumus dalam lembah kesombongan.

0 komentar: